Minggu, 23 November 2014
makro, messo dan mikro dalam video syahril huda- lentera indonesia "paradoks negri bahari"
jika di perhatikan dalam video syahril huda lentera indonesia "paradoks negeri bahari" akan membuat kita mengerti apa itu yang dimaksud makro, mikro atau messo. mengapa? karena didalam video tersebut secara tidak langsung syahril huda telah menjadi agen dalam kajian sosiologi. siapa agen itu? agen adalah seorang individu yang berinteraksi. interaksi disini dapat terjadi secara makro, messo dan mikro. makro adalah interaksi yang terjadi secara global atau luas. di dalam video tersebut dapat dijelaskan kapan makro itu terjadi? yakni pertama ketika ada sebuah TV swasta yakni NET.tv yang meliput syahril huda,secara tidak langsung liputan tersebut akan tersebar sehingga banyak masyarakat yang melihatnya. kedua ketika si Agen berbicara atau berinteraksi dengan orang luar(turis). messo yakni interaksi yang terjadi antara agen dengan lingkungan sekitarnya(kelompok). contohnya ketika syahril dan berinteraksi dengan masayarakat bajo, seperti : ikut memancing, bersilaturrahmi ke rumah muridnya, mengajar muridnya dan masyarakat untuk tidak membuang sampah dilaut, dll. mikro adalah interaksi yang terjadi dengan dirinya sendiri. seperti ketulusan hati seorang syahril huda yang rela menjadi seorang relawan mengajar yang pada awalnya hanya mengajar pendidikan agama saja namun karena murid-murid yang sangat tidak tahu akan semua pelajaran jadi semua mata pelajaran syahril hudalah yang mengajar. dan ketika syahril huda bertekad untuk selalu berusaha agar masyarakat bajo tidak selamanya menjadi pekerja dalam rumahnya sendiri juga dapa tdisebut sebagai mikro.
Selasa, 18 Desember 2012
Asal Usul Kabupaten Bangkalan
Bangkalan berasal dari kata “bangkah” dan ”la’an” yang artinya “mati sudah”. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat. Menurut beberapa sumber, disebutkan bahwa Raja Majapahit yaitu Brawijaya ke V telah masuk Islam (data kekunoan di Makam Putri Cempa di Trowulan, Mojokerto). Namun demikian siapa sebenarnya yang dianggap Brawijaya ke V ini ?. Didalam buku Madura en Zijin Vorstenhuis dimuat antara lain Stamboon van het Geslacht Tjakradiningrat.
Dari Stamboon tersebut tercatat bahwa Prabu Brawijaya ke V memerintah tahun 1468–1478. Dengan demikian, maka yang disebut dengan gelar Brawijaya ke V (Madura en Zijin Vorstenhuis hal 79) adalah Bhre Krtabhumi dan mempunyai 2 (dua) orang anak dari dua istri selir. Dari yang bernama Endang Sasmito Wati melahirkan Ario Damar dan dari istri yang bernama Ratu Dworo Wati atau dikenal dengan sebutan Putri Cina melahirkan Lembu Peteng. Selanjutnya Ario Damar (Adipati Palembang) mempunyai anak bernama Menak Senojo.
Menak Senojo tiba di Proppo Pamekasan dengan menaiki bulus putih dari Palembang kemudian meneruskan perjalannya ke Barat (Bangkalan). Saat dalam perjalanan di taman mandi Sara Sido di Sampang pada tengah malam Menak Senojo mendapati banyak bidadari mandi di taman itu, oleh Menak Senojo pakaian salah satu bidadari itu diambil yang mana bidadari itu tidak bisa kembali ke kayangan dan akhirnya jadi istri Menak Senojo.
Bidadari tersebut bernama Nyai Peri Tunjung Biru Bulan atau disebut juga Putri Tunjung Biru Sari. Menak Senojo dan Nyai Peri Tunjung Biru Bulan mempunyai anak Ario Timbul. Ario Timbul mempunyai anak Ario Kudut. Ario Kudut mempunyai anak Ario Pojok. Sedangkan di pihak Lembu Peteng yang bermula tinggal di Madegan Sampang kemudian pindah ke Ampel (Surabaya) sampai meninggal dan dimakamkan di Ampel, Lembu Peteng mempunyai anak bernama Ario Manger yang menggantikan ayahnya di Madegan Sampang. Ario Manger mempunyai anak Ario Pratikel yang semasa hidupnya tinggal di Gili Mandangin (Pulau Kambing). Dan Ario Pratikel mempunyai anak Nyai Ageng Budo.
Nyai Ageng Budo inilah yang kemudian kawin dengan Ario Pojok. Dengan demikian keturunan Lembu Peteng menjadi satu dengan keturunan Ario Damar. Dari perkawinan tersebut lahirlah Kiai Demang yang selanjutnya merupakan cikal bakal Kota Baru dan kemudian disebut Plakaran. Jadi Kiai Demang bertahta di Plakaran Arosbaya dan ibukotanya Kota Baru (Kota Anyar) yang terletak disebelah Timurdaya Arosbaya. Dari perkawinannya dengan Nyai Sumekar mempunyai 5 (lima) orang anak yaitu :
- Kiai Adipati Pramono di Madegan Sampang.
- Kiai Pratolo disebut juga Pangeran Parambusan.
- Kiai Pratali atau disebut juga Pangeran Pesapen .
- Pangeran Paningkan disebut juga dengan nama Pangeran Suka Sudo .
- Kiai Pragalbo yang kemudian dikenal dengan nama Pangeran Plakaran karena bertahta
di Plakaran, setelah meninggal dikenal sebagai Pangeran Islam Onggu’ .
Namun perkembangan Bangkalan bukan berasal dari legenda ini, melainkan diawali dari sejarah perkembangan Islam di daerah itu pada masa pemerintahan Panembahan Pratanu yang bergelar Lemah Dhuwur.
Beliau adalah anak Raja Pragalba, pendiri kerajaan kecil yang berpusat di Arosbaya, sekitar 20 km dari kota Bangkalan ke arah utara. Panembahan Pratanu diangkat sebagai raja pada 24 Oktober 1531 setelah ayahnya, Raja Pragalba wafat. Jauh sebelum pengangkatan itu, ketika Pratanu masih dipersiapkan sebagai pangeran, dia bermimpi didatangi orang yang menganjurkan dia memeluk agama Islam. Mimpi ini diceritakan kepada ayahnya yang kemudian memerintahkan patih Empu Bageno untuk mempelajari Islam di Kudus.
Perintah ini dilaksanakan sebaik-baiknya, bahkan Bageno bersedia masuk Islam sesuai saran Sunan Kudus sebelum menjadi santrinya selama beberapa waktu lamanya. Ia kembali ke Arosbaya dengan ilmu keislamannya dan memperkenalkannya kepada Pangeran Pratanu.
Pangeran ini sempat marah setelah tahu Bageno masuk Islam mendahuluinya. Tapi setelah dijelaskan bahwa Sunan Kudus mewajibkannya masuk Islam sebelum mempelajari agama itu, Pangeran Pratanu menjadi maklum.
Setelah ia sendiri masuk Islam dan mempelajari agama itu dari Empu Bageno, ia kemudian menyebarkan agama itu ke seluruh warga Arosbaya. Namun ayahnya, Raja Pragalba, belum tertarik untuk masuk Islam sampai ia wafat dan digantikan oleh Pangeran Pratanu. Perkembangan Islam itulah yang dianut oleh pimpinan di Kabupaten Bangkalan ketika akan menentukan hari jadi kota Bangkalan, bukan perkembangan kekuasan kerajaan di daerah itu.
Jauh sebelum Pangeran Pratanu dan Empu Bageno menyebarkan Islam, sejumlah kerajaan kecil di Bangkalan.
Diawali dari Kerajaan Plakaran yang didirikan oleh Kyai Demang dari Sampang. Yang diperkirakan merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit yang sangat berpengaruh pada saat itu.
Kyai Demang menikah dengan Nyi Sumekar, yang diantaranya melahirkan Raden Pragalba. Pragalba menikahi tiga wanita. Pratanu adalah anak Pragalba dari istri ketiga yang dipersiapkan sebagai putera mahkota dan kemudian dikenal sebagai raja Islam pertama di Madura. Pratanu menikah dengan putri dari Pajang yang memperoleh keturunan lima orang :
- Pangeran Sidhing Gili yang memerintah di Sampang.
- Raden Koro yang bergelar Pangeran Tengah di Arosbaya, Raden Koro menggantikan ayahnya
- ketika Pratanu wafat.
- Pangeran Blega yang diberi kekuasaan di Blega.
- Ratu Mas di Pasuruan dan Ratu Ayu.
Kerajaan Arosbaya runtuh diserang oleh Mataram pada masa pemerintahan Pangeran Mas pada tahun 1624. Pada pertempuran ini Mataram kehilangan panglima perangnya, Tumenggung Demak, beberapa pejabat tinggi kerajaan dan sebanyak 6.000 prajurit gugur.
Korban yang besar ini terjadi pada pertempuran mendadak pada hari Minggu, 15 September 1624, yang merupakan perang besar. Laki-laki dan perempuan kemedan laga. Beberapa pejuang laki-laki sebenarnya masih bisa tertolong jiwanya. Namun ketika para wanita akan menolong mereka melihat luka laki-laki itu berada pada punggung, mereka justru malah membunuhnya.
Luka di punggung itu menandakan bahwa mereka melarikan diri, yang dianggap menyalahi jiwa ksatria. Saat keruntuhan kerajaan itu, Pangeran Mas melarikan diri ke Giri. Sedangkan Prasena (putera ketiga Pangeran Tengah) dibawa oleh Juru Kitting ke Mataram, yang kemudian diakui sebagai anak angkat oleh Sultan Agung dan dilantik menjadi penguasa seluruh Madura yang berkedudukan di Sampang dan bergelar Tjakraningrat I. Keturunan Tjakraningrat inilah yang kemudian mengembangkan pemerintahan kerajaan baru di Madura, termasuk Bangkalan.
Tjakraningrat I menikah dengan adik Sultan Agung. Selama pemerintahannya ia tidak banyak berada di Sampang, sebab ia diwajibkan melapor ke Mataram sekali setahun ditambah beberapa tugas lainnya. Sementara kekuasaan di Madura diserahkan kepada Sontomerto.
Dari perkawinannya dengan adik Sultan Agung, Tjakraningrat tidak mempunyai keturunan sampai istrinya wafat. Baru dari pernikahannya dengan Ratu Ibu ( Syarifah Ambani, keturunan Sunan Giri ), ia memperoleh tiga orang anak dan beberapa orang anak lainnya diperoleh dari selirnya (Tertera pada Silsilah yang ada di Asta Aer Mata Ibu. Bangkalan berkembang mulai tahun 1891 sebagai pusat kerajaan dari seluruh kekuasaan di Madura, pada masa pemerintahan Pangeran Tjakraningrat II yang bergelar Sultan Bangkalan II. Raja ini banyak berjasa kepada Belanda dengan membantu mengembalikan kekuasaan Belanda di beberapa daerah di Nusantara bersama tentara Inggris.
Karena jasa-jasa Tjakraningrat II itu, Belanda memberikan izin kepadanya untuk mendirikan militer yang disebut ‘Corps Barisan’ dengan berbagai persenjataan resmi modern saat itu. Bisa dikatakan Bangkalan pada waktu itu merupakan gudang senjata, termasuk gudang bahan peledak. Namun perkembangan kerajaan di Bangkalan justru mengkhawatirkan Belanda setelah kerajaan itu semakin kuat, meskipun kekuatan itu merupakan hasil pemberian Belanda atas jasa-jasa Tjakraningrat II membantu memadamkan pemberontakan di beberapa daerah.
Belanda ingin menghapus kerajaan itu. Ketika Tjakraningrat II wafat, kemudian digantikan oleh Pangeran Adipati Setjoadiningrat IV yang bergelar Panembahan Tjokroningrat VIII, Belanda belum berhasil menghapus kerajaan itu. Baru setelah Panembahan Tjokroadiningrat wafat, sementara tidak ada putera mahkota yang menggantikannya, Belanda memiliki kesempatan menghapus kerajaan yang kekuasaannya meliputi wilayah Madura itu.
Raja Bangkalan Dari Tahun 1531 – 1882
- Tahun 1531 – 1592 : Kiai Pratanu (Panembahan Lemah Duwur)
- Tahun 1592 – 1620 : Raden Koro (Pangeran Tengah)
- Tahun 1621 – 1624 : Pangeran Mas
- Tahun 1624 – 1648 : Raden Prasmo (Pangeran Cakraningrat I)
- Tahun 1648 – 1707 : Raden Undakan (Pangeran Cakraningrat II)
- Tahun 1707 – 1718 : Raden Tumenggung Suroadiningrat
- · (Pangeran Cakraningrat III)
- · Tahun 1718 – 1745 : Pangeran Sidingkap (Pangeran Cakraningrat IV)
- Tahun 1745 – 1770 : Pangeran Sidomukti (Pangeran Cakraningrat V)
- Tahun 1770 – 1780 : Raden Tumenggung Mangkudiningrat
- (Panembahan Adipati Pangeran Cakraadiningrat VI)
- Tahun 1780 – 1815 : Sultan Abdu/Sultan Bangkalan I
- · (Panembahan Adipati Pangeran Cakraadiningrat VII)
- · Tahun 1815 – 1847 : Sultan Abdul Kadirun (Sultan Bangkalan II)
- Tahun 1847 – 1862 : Raden Yusuf (Panembahan Cakraadiningrat VII)
- Tahun 1862 – 1882 : Raden Ismael (Panembahan Cakraadiningrat VIII)
Menggali Sejarah Bangkalan, Selanjutnya
Dari Pra Islam Hingga Cakraningrat Madura Barat (Bangkalan) Masa Hindu dan Budha Dari Plakaran Ke Arosbaya, Pragalba ke Pratanu (Lemah Dhuwur) Cakraningrat I Anak Angkat Sultan Agung Madura Barat (Bangkalan) Masa Hindu dan Budha Bangkalan, Bangkalan dulunya lebih dikenal dengan sebutan Madura barat. Penyebutan ini, mungkin lebih ditekankan pada alasan geografis. Soalnya, Kabupaten Bangkalan memang terletak di ujung barat Pulau Madura. Dan, sejak dulu, Pulau Madura memang sudah terbagi-bagi.
Bahkan, tiap bagian memiliki sejarah dan legenda sendiri-sendiri. Berikut laporan wartawan Radar Madura di Bangkalan, Risang Bima Wijaya secara bersambung. Menurut legenda, sejarah Madura barat bermula dari munculnya seorang raja dari Gili Mandangin (sebuah pulau kecil di selat Madura) atau lebih tepatnya di daerah Sampang.
Nama raja tersebut adalah Lembu Peteng, yang masih merupakan putra Majapahit hasil perkawinan dengan putri Islam asal Campa. Lembu Peteng juga seorang santri Sunan Ampel.
Dan, Lembu Peteng-lah yang dikenal sebagai penguasa Islam pertama di Madura Barat. Namun dalam perkembangan sejarahnya, ternyata diketahui bahwa sebelum Islam, Madura pernah diperintah oleh penguasa non muslim, yang merupakan yang berasal dari kerajaan Singasari dan Majapahit. Hal ini diperkuat dengan adanya pernyataan Tome Pires (1944 : 227) yang mengatakan, pada permulaan dasawarsa abad 16, raja Madura belum masuk Islam. Dan dia adalah seorang bangsawan mantu Gusti Pate dari Majapahit. Pernyataan itu diperkuat dengan adanya temuan – temuan arkeologis, baik yang bernafaskan Hindu dan Bhudda.
Temuan tersebut ditemukan di Desa Kemoning, berupa sebuah lingga yang memuat inskripsi. Sayangnya, tidak semua baris kalimat dapat terbaca. Dari tujuh baris yang terdapat di lingga tersebut, pada baris pertama tertulis, I Caka 1301 (1379 M), dan baris terakhir tertulis, Cadra Sengala Lombo, Nagara Gata Bhuwana Agong (Nagara: 1, Gata: 5, Bhuwana: 1, Agong: 1) bila dibaca dari belakang, dapat diangkakan menjadi 1151 Caka 1229 M. Temuan lainnya berupa fragmen bangunan kuno, yang merupakan situs candi. Oleh masyarakat setempat dianggap reruntuhan kerajaan kecil.
Juga ditemukan reruntuhan gua yang dikenal masyarakat dengan nama Somor Dhaksan, lengkap dengan candhra sengkala memet bergambar dua ekor kuda mengapit raksasa. Berangkat dari berbagai temuan itulah, diperoleh gambaran bahwa antara tahun 1105 M sampai 1379 M atau setidaknya masa periode Singasari dan Majapahit akhir, terdapat adanya pengaruh Hindu dan Bhudda di Madura barat.
Sementara temuan arkeologis yang menyatakan masa klasik Bangkalan, ditemukan di Desa Patengteng, Kecamatan Modung, berupa sebuah arca Siwa dan sebuah arca laki-laki. Sedang di Desa Dlamba Daja dan Desa Rongderin, Kecamatan Tanah Merah, terdapat beberapa arca, di antaranya adalah arca Dhayani Budha.
Temuan lainnya berupa dua buah arca ditemukan di Desa Sukolilo Barat Kecamatan Labang. Dua buah arca Siwa lainnya ditemukan di pusat kota Bangkalan. Sementara di Desa Tanjung Anyar Bangkalan ditemukan bekas Gapura, pintu masuk kraton kuno yang berbahan bata merah. Di samping itu, berbagai temuan yang berbau Siwais juga ditemukan di makam-makam raja Islam yang terdapat di Kecamatan Arosbaya. Arosbaya ini pernah menjadi pusat pemerintahan di Bangkalan. Misalnya pada makam Oggo Kusumo, Syarif Abdurrachman atau Musyarif (Syech Husen).
Pada jarak sekitar 200 meter dari makam tersebut ditemukan arca Ganesha dan arca Bhirawa berukuran besar. Demikian pula dengan temuan arkeologis yang di kompleks Makam Agung Panembahan Lemah Duwur, ditemukan sebuah fragmen makam berupa belalai dari batu andesit. Dengan temuan-temuan benda kuno yang bernafaskan Siwais di makam-makam Islam di daerah Arosbaya itu, memberi petunjuk bahwa Arosbaya pernah menjadi wilayah perkembangan budaya Hindu.
Penemuan benda berbau Hindu pada situs-situs Islam tersebut menandakan adanya konsinyuitas antara kesucian. Artinya, mandala Hindu dipilih untuk membangun arsitektur Islam. Arosbaya merupakan pusat perkembangan kebudayaan Hindu di Madura Barat (Bangakalan) semakin kuat dengan adanmya temuan berupa bekas pelabuhan yang arsitekturnya bernafaskan Hindu, dan berbentuk layaknya sebuah pelabuhan Cina.
(Risang Bima Wijaya) atas Dari Plakaran Ke Arosbaya, Pragalba ke Pratanu (Lemah Dhuwur) Bangkalan, Radar.- Sosok Pratanu atau lebih dikenal dengan Panembahan Lemah Duwur adalah putera Raja Pragalba. Dia dikenal sebagai pendiri kerajaan kecil, yang berpusat di Arosbaya. Masyarakat Bangakalan menokohkan Pratanu sebagai penyebar agama Islam yang pertama di Madura.
Bahkan, putera Pragalba ini disebut-sebut sebagai pendiri masjid pertama di Madura. Selain itu, Pratanulah yang mengawali hubungan dengan daerah lain, yaitu Pajang dan Jawa. Perjalanan sejarah Bangkalan tidak bisa dilepaskan dengan munculnya kekuasaan di daerah Plakaran, yang selanjutnya disebut dengan Kerajaan Plakaran. Kerajaan ini diperkirakan muncul sebelum seperempat pertama abad 16, yakni sebelum penguasa Madura barat memeluk Islam.
Plakaran diawali dengan kedatangan Kiyai Demung dari Sampang. Dia adalah anak dari Aria Pujuk dan Nyai Ageng Buda. Setelah menetap di Plakaran, Kiyai Demung dikenal dengan nama Demung Plakaran. Dia mendirikan kraton di sebelah barat Plakaran atau sebelah timur Arosbaya, yang dinamakan Kota Anyar (Pa’ Kamar 1951: 113).
Sepeninggal Demung Plakaran, kekuasaan dipegang oleh Kiai Pragalba, anaknya yang nomor lima. Pragalba mengangkat dirinya sebagai Pangeran Plakaran dari Arosbaya. Selanjutnya meluaskan daerah kekuasaannya hingga hampir seluruh Madura. Paragalba mempunyai tiga orang istri.
Pratanu adalah anak dari istri ketiganya. Semasa kekuasaan Pragalba inilah agama Islam mulai disebarkan di Madura barat, yang dilakukan oleh para ulama dari Giri dan Gresik. Penyebarannya meliputi daerah pesisir pantai sekitar selat Madura pada abad ke-15 (FA Sutjipto Tirtoatmodjo 1983 : 13) Islam berkembang pesat sejak penyeberannya dilakukan secara teratur oleh Syech Husen dari Ampel (Hamka 1981:137).
Bahkan, ia mendirikan masjid di Arosbaya. Menurut cerita masyarakat Arosbaya, reruntuhan di sekitar makam Syech Husen adalah masjid yang didirikannya. Namun meski Islam sudah masuk di Madura barat, Pragalba belum memeluk Islam. Tetapi justru putranya Pratanu yang memeluk agama Islam. Peristiwa tersebut ditandai dengan candra sengkala yang berbunyi: Sirna Pandawa Kertaning Nagara (1450 caka 1528 M).
Peristiwa tersebut berbarengan dengan pudarnya kekuasaan Majapahit setelah dikuasai Islam tahun 1527 M. Selain itu, Kerajaan Plakaran mengakui kekuasaan Demak, sehingga diperkirakan penerimaan Islam di Madura bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Majapahit. Menjelang wafat, Pragalba masuk Islam dengan menganggukkna kepala, karena itu dia mendapat sebutan Pangeran Onggu’ (mengangguk, Red). Sepeninggalnya, Pratanu naik tahta dengan gelar Panembahan Lemah Dhuwur. Itu terjadi pada tahun 1531-1592.
Di masa pemerintahan Lemah Dhuwur inilah pusat pemerintahan Plakaran dipindahkan ke Arosbaya. Karena itu, dia mendapat julukan sebagai pendiri Kerajaan Arosbaya. Lemahlah Dhuwur yang mendirikan kraton dan msajid pertama di Arosabaya. Selama masa pemerintahan Panembahan Lemah Duwur, kerajaan Arosbaya telah meluaskan daerah kekuasaannya hingga ke seluruh Madura barat, termasuk Sampang dan Blega.
Panembahan lemah Duwur mengawini putri Triman dari Pajang. Ini juga menjadi bukti bahwa Lemah Duwur adalah penguasa Madura pertama yang menjalinm hubungan dengan Jawa. Berdasarkan Tutur Madura Barat, Rafless mengatakan bahwa Lemah Dhuwur adalah penguasa terpenting di daerah Jawa Timur pada masa itu.
Panembahan Lemah Dhuwur wafat di Arosbaya pada tahun 1592 M setelah kembali dari kunjungannya ke Panembahan Ronggo Sukowati di Pamekasan. Sesuai dengan tradisi dia dimakamkan di kompleks Makam Agung Lemah Dhuwur.
Selanjutnya kekuasaan Arosbaya dipegang oleh putranya yang bernama Pangeran Tengah, hasil perkawinannya dengan puteri Pajang. Pangeran Tengah berkuasa tahun 1592-1620. Di masa pemerintahan Pangeran Tengah terjadi peristiwa terkenal yang disebut dengan 6 Desember 1596 berdarah, karena saat itu telah gugur dua orang utusan dari Arosbaya yang dibunuh oleh Belanda yaitu Patih Arosbaya Kiai Ronggo dan Penghulu Arosbaya Pangeran Musarip. Sejak peristiwa itulah Arosbaya menyatakan perang dengan Belanda.
Pangeran Tengah meninggal tahun 1620. Makamnya terletak di kompleks makam Syech Husen, dan sampai sekarang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Pengganti Pangeran Tengah adalah adiknya yang bernama Pangeran Mas, yang berkuasa tahun 1621-1624. Sebetulnya yang berhak berkuasa adalah putra Pangeran Tengah yang bernama Pangeran Prasena. Namun karena masih kecil, dia diwakili oleh pamannya.
Di masa pemerintahan Pangeran Mas terjadi peristiwa penyerangan Sultan Agung ke Arosbaya pada tahun 1624. Itulah yang menyebabkan jatuhnya kerajaan Arosbaya. Sedang Pangeran Mas melarikan diri ke Demak dan Pangeran Prasena dibawa oleh juru kitting ke Mataram.
Peperangan antara Mataram dan Arosbaya yang berlangsung pada hari Minggu 15 Septeber 1624 tersebut, memang patut dikenang sebagai perjuangan rakyat Madura. Saat itu Mataram harus membayar mahal, karena mereka telah kehilangan panglima perang tertingginya, Tumenggung Demak dan kehilangan 6000 prajurit.
Saat itu laki-laki dan wanita Arosbaya berjuang bersama. Ada sebuah kisah menarik di sini. Dikisahkan saat di medan perang ada beberapa prajurit lelaki yang mengeluh karena luka berat. Tetapi katika para wanita melihat luka tersebut terdapat dibagian belakang, para wanita tersebut menusuk prajurit tadi hingga tewas.
’’Lukanya di bagian belakang, artinya prajurit itu telah berbalik lari, hingga dilukai di bagian punggungnya oleh musuh, mereka pengecut dalam,’’ demikian kata-kata para wanita Arosbaya. atas Cakraningrat I Anak Angkat Sultan Agung Prasena, putera Pangeran Tengah dari Arosbaya disertai Pangeran Sentomerto, saudara dari ibunya yang berasal dari Sampang, dibawa oleh Panembahan Juru Kitting beserta 1000 orang Sampang lainnya ke Mataram. Di Mataram Prasena diterima dengan senang hati oleh Sultan Agung, yang sekanjutnya diangkat sebagai anak.
Bahkan, kemnudian Prasena dinobatkan sebagai penguasa Madura yang bergelar Cakraningrat I. Dia dianugerahi hadiah uang sebesar 20 ribu gulden dan berhak memakai payung kebesaran berwarna emas.
Sebaliknya, Cakraningrat I diwajibkan hadir di Mataram setahun sekali. Karena selain menjadi penguasa Madura, dia juga punya tugas-tugas penting di Mataram. Sementara pemerintahan di Sampang dipercayakan kepada Pangeran Santomerto. Cakraningrat I kemudian menikah dengan adik Sultan Agung, namun hingga istrinya, meninggal dia tidak mendapat keturunan.
Kemudian Cakraningrat I menikah dengan Ratu Ibu, yang masih keturunan Sunan Giri. Dari perkawinannya kali ini dia menmpunyai tiga orang anak, yaitu RA Atmojonegoro, R Undagan dan Ratu Mertoparti. Sementara dari para selirnya dia mendapatkan sembilan orang anak, salah satu di antaranya adalah Demang Melaya. Sepeninggal Sultan Agung tahun 1645 yang kemudian diganti oleh Amangkurat I, Cakraningrat harus menghadapai pemberontakan Pangeran Alit, adik raja. Tusukan keris Setan Kober milik Pangeran Alit menyebabkan Cakraningrat I tewas seketika.
Demikian pula dengan puteranya RA Atmojonegoro, begitu melihat ayahnya tewas dia segera menyerang Pangeran Alit, tapi dia bernasib sama seperti ayahnya. Cakraningrat I diganti oleh Undagan. seperti halnya Cakraningrat I, Undagan yang bergelar Cakraningrat II ini juga lebih banyak menghabiskan waktunya di Mataram. Di masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan putra Demang Melaya yang bernama Trunojoyo terhadap Mataram. Pemberontakan Trunojoyo diawali dengan penculikan Cakraningrat II dan kemudian mengasingkannya ke Lodaya Kediri. Pemberontakan Trunojoyuo ini mendapat dukungan dari rakyat Madura.
Karena Cakraningrat II dinilai rakyat Madura telah mengabaikan pemerintahan Madura. Kekuatan yang dimiliki kubu Trunojoyo cukup besar dan kuat, karena dia berhasil bekerja sama dengan Pangeran Kejoran dan Kraeng Galesong dari Mataram. Bahkan, Trunojoyo mengawinkan putrinya dengan putra Kraeng Galesong, unutk mempererat hubungan. Tahun 1674 Trunojoyo berhasil merebut kekuasaan di Madura, dia memproklamirkan diri sebagai Raja Merdeka Madura barat, dan merasa dirinya sejajar dengan penguasa Mataram. Berbagai kemenangan terus diraihnya, misalnya, kemenangannya atas pasukan Makassar (mei 1676 ) dan Oktober 1676 Trunojoyo menang atas pasukan Mataram yang dipimpin Adipati Anom. Selanjutnya Trunojoyo memakai gelar baru yaitu Panembahan Maduretna. Tekanan-tekanan terhadap Trunojoyo dan pasukannya semakin berat sejak Mataram menandatangani perjanjian kerjasama dengan VOC, tanggal 20 maret 1677.
Namun tanpa diduga Trunojoyo berhasil menyerbu ibukota Mataram, Plered. Sehingga Amangkurat harus menyingkir ke ke barat, dan meninggal sebelum dia sampai di Batavia. Benteng Trunojoyo sedikit demi sedikit dapat dikuasai oleh VOC. Akhirnya Trunojoyo menyerah di lereng Gunung Kelud pada tanggal 27 Desember 1679. Dengan padamnya pemberonrtakan Trunojoyo. VOC kembali mengangkat Cakraningrat II sebagai penguasa di Madura, karena VOC merasa Cakraningrat telah berjasa membantu pangeran Puger saat melawan Amangkurat III, sehingga Pangeran Puger berhasil naik tahta bergelar Paku Buwono I.
Kekuasaan Cakraningrat di Madura hanya terbatas pada Bangkalan, Blega dan Sampang. Pemerintahan Madura yang mulanya ada di Sampang, oleh Cakraningrat II dipindahkan ke Tonjung Bangkalan. Dan terkenal dengan nama Panembahan Sidhing Kamal, yaitu ketika dia meninggal di Kamal tahun 1707, saat dia pulang dari Mataram ke Madura dalam usia 80 tahun.
Raden Tumenggung Sosrodiningrat menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Bupati Madura barat dengan gelar Cakraningrat III. Suatau saat terjadi perselisihan antara Cakraningrat dengan menantunya, Bupati Pamekasan yang bernama Arya Adikara. Untuk menghadapi pasukan dari Pamekasan, Cakraningrat III meminta bantuan dari pasukan Bali.
Dimasa Cakraningrat inilah Madura betul-betul bergolak, terjadi banyak peperangan dan pemberontakan di Madura. Tumenggung Surahadiningrat yang diutus Cakraningrat untuk menghadapi pasukan Pamekasan ternyata menyerang pasukan Cakraningrat sendiri dengan bantuan pasukan Sumenep. Sekalipun Cakraningrat meninggal, pergolakan di Madura masih terus terjadi. Cakraningrat III digantikan oleh Timenggung Surahadiningrat dengan gelar Cakraningrat IV. Awal pemerintahan Cakraningrat IV diwarnai banyak kekacauan. Pasukan Bali dibawah kepemimpinan Dewa Ketut yang sebelumnya diminta datang oleh Cakaraningrat III, datang dengan membawa 1000 prajurit. Tahu yang meminta bantuan sudah meninggal dan situasi telah berubah, pasukan Bali menyerang Tonjung. Cakraningrat yang sedang berada di Surabaya memerintahkan adiknya Arya Cakranegara untuk mengusir pasukan Bali.
Tetapi Dewa Ketut berhasil membujuk Cakranegara untuk berbalik menyerang Cakraningrat IV. Tetapi dengan bantuan VOC, Cakranoingrat IV berhasil mengusir pasukan Arya Cakranegara dan Bali.
Kemudian dia memindahkan pusat pemerintahannya ke Sambilangan. Suatau peristiwa yang terkenal dengan Geger Pacina (pemberontakan masyarakat Cina) juga menjalar ke Mataram. Cakraningrat IV bekerjasama dengan VOC memerangi koalisi Mataram dan Cina ini.
Namun hubungan erat antar Madura denga VOC tidak langgeng. Cakraningrat menyatakan perang dengan VOC karena VOC telah berkali-kali melanggar janji yang disepakati. Dengan bekerja sama dengan pasukan Mengui Bali, Cakraningrat berhasil mengalahkan VOC dan menduduki Sedayu, Lamongan, Jipang dan Tuban.
Cakraningrat juga berhasil mengajak Bupati Surabaya, Pamekasan dan Sumenep untuk bersekutu melawan VOC. Tapi Cakraningrat tampaknya harus menerima kekalahan, setelah VOC mengerahkan pasukan dalam jumlah besar. Cakraningrat dan dua orang putrinya berhasil melarikan diri ke Banjarmasin, namun oleh Raja Bajarmasin dia ditangkap dan diserahkan pada VOC.
Cakraningrat diasingkan ke Kaap De Goede Hoop (Tanjung Penghargaan). dan meninggal di tempat pembuangannya, sehingga dia juga dikenal dengan nama Panembahan Sidengkap.
Artikel ini berasal dari Asal Usul Kabupaten Bangkalan - Madura | Berbagi Seputar Pulau Madura | TreTans
Kunjungi http://www.tretans.com untuk Artikel lainnya dan sertakan link TreTans.com jika mengutip. Mator Sakalangkong
JEMBATAN KEBANGGAAN"SURAMADU"
Suramadu adalah jembatan yang menghubungkan antara pulau madura tepatnya
bangkalan dengan kota surabaya. Suramadu ini berada di daerah Burneh-Bangkalan. Dan jembatan
suramadu ini adalah jembatan terpanjang. Bukan hanya terpanjang di Indonesia
saja. Namun jembatan suramadu ini juga termasuk jembatan terpanjang se-Asia
tenggar
Dengan adanya jembatan Suramadu ini,
masyarakat di madura tidak memerlukan waktu yang lama jika ingin pergi ke
surabaya. Terutama orang-orang dari tanah merah, modung, pamekasan, dll tidak
perlu jauh-jauh ke kamal jika ingin ke Surabaya dengan menggunakan kapal. Dan
jika kita ingin ke surabaya dan menyebrang dengan melewati jembatan suramadu,
maka mereka tidak perlu memakan waktu yang lama.
Dengan menggunakan jalur alternatif
jembatan suramadu ini, perjalanan ke kota surabaya menjadi semakin singkat. Di
bandingkan dengan menyebrang dengan menggunakan kapal, ljalur suramadu ini jauh
lebih singkat dari pada dengan kapal. Dan harga pengendara yang melewati
suramadu ini lebih murah dibandingkan harga dengan menggunakan kapal.
Maka dari itu, manfaat suramadu ini
di rasakan oleh banyak orang. Karena dapat membantu orang-orang untuk
menyingkat waktu kita. Dan dengan suramadu ini bisa menghemat uang kita jika
kita sering ke surabaya. Jarak waktu yang singkat dan harga penyebrangan yang
murah inilah yang membuat orang-orang lebih memilih jalur suramadu di bandingkan
dengan menyebrang dengan menggunakan kapal.
Namun, bukan hanya dampak positif
saja yang di rasakan masyarakat madura dengan adanya suramadu ini. Masyarakat
madura juga akan merasakan dampak negative nya. Seperti dengan adanya suramadu
ini bisa saja berdiri bangunan-bangunan besar dan tempat senang-senang, dan
pabrik-pabrik yang akan mencemari udara.
Suramadu
adalah jembatan yang menghubungkan antara pulau madura tepatnya bangkalan
dengan kota surabaya. Suramadu ini berada
di daerah Burneh-Bangkalan. Dan jembatan suramadu ini adalah jembatan
terpanjang. Bukan hanya terpanjang di Indonesia saja. Namun jembatan suramadu
ini juga termasuk jembatan terpanjang se-Asia tenggar
Dengan adanya jembatan Suramadu ini,
masyarakat di madura tidak memerlukan waktu yang lama jika ingin pergi ke
surabaya. Terutama orang-orang dari tanah merah, modung, pamekasan, dll tidak
perlu jauh-jauh ke kamal jika ingin ke Surabaya dengan menggunakan kapal. Dan
jika kita ingin ke surabaya dan menyebrang dengan melewati jembatan suramadu,
maka mereka tidak perlu memakan waktu yang lama.
Dengan menggunakan jalur alternatif
jembatan suramadu ini, perjalanan ke kota surabaya menjadi semakin singkat. Di
bandingkan dengan menyebrang dengan menggunakan kapal, ljalur suramadu ini jauh
lebih singkat dari pada dengan kapal. Dan harga pengendara yang melewati
suramadu ini lebih murah dibandingkan harga dengan menggunakan kapal.
Maka dari itu, manfaat suramadu ini
di rasakan oleh banyak orang. Karena dapat membantu orang-orang untuk menyingkat
waktu kita. Dan dengan suramadu ini bisa menghemat uang kita jika kita sering
ke surabaya. Jarak waktu yang singkat dan harga penyebrangan yang murah inilah
yang membuat orang-orang lebih memilih jalur suramadu di bandingkan dengan
menyebrang dengan menggunakan kapal.
Namun, bukan hanya dampak positif
saja yang di rasakan masyarakat madura dengan adanya suramadu ini. Masyarakat
madura juga akan merasakan dampak negative nya. Seperti dengan adanya suramadu
ini bisa saja berdiri bangunan-bangunan besar dan tempat senang-senang, dan
pabrik-pabrik yang akan mencemari udara.
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
KECNATIKAN AKHLAK
Sebagai hamba Allah, kita
seharusnya melihat kecantikan selaras dengan penilaian Allah atas keyakinan apa
yang dinilai oleh-Nya lebih tepat dan benar-benar benar. Apakah kecantikan yang
dimaksudkan itu? Kecantikan yang dimaksudkan ialah kecantikan budi pekerti atau
akhlak. Itulah misi utama kedatangan Rasulullah – untuk menyempurnakan akhlak
manusia.
Kecantikan akhlak jika ada pada seseorang, lebih kekal. Inilah kecantikan hakiki yang mengikuti penilaian Allah. Hancur badan dikandung tanah, budi baik di kenang juga. Malah akhlak yang baik juga sangat lebih disukai oleh hati manusia. Contohnya, kalaulah ada orang yang wajahnya saja cantik tetapi akhlaknya buruk, pasti dia akan dibenci dan bahkan dimaki.
Tatkala bunga-bunga layu, buah-buahnya pun bermunculan... Ketika kecantikan luar memudar, seketika itu juga tumbuh kecantikan dari dalam dengan sendirinya. Ini yang bisa menjelaskan orang yang mukanya biasa-biasa saja, tetapi hidupnya memancarkan cahaya-cahaya keteladanan semua karna kecantikanbukan hanya dari rupa tapi dri hati nd’ perilaku
Tidak semua orang mudah memahami konsep Kecantikan ini sering mereka merasa bahwa kecantikan adalah suatu cara untuk mendapat pasangan. Terutama mereka yang diperbudak habis-habisan oleh nafsu dan pikiran. Dan sedikit-sedikit meminta data serta fakta empiris. Untaian kalimat indah diatas, hanya akan memperpanjang daftar kebingungan. Namun bagi siapa saja yang terbiasa ber-akhlakul karimah, dan bersahabat akrab dengan Allah, tidak banyak kesulitan yang muncul untuk memahami. Tanpa perlu dipaksa, tanpa perlu mengada-ada, kecantikan muncul dengan sendirinya. Sejalan dengan perilaku dan akhlak bila yang di lakukannya baikk maka kecantikan akan terpancar dari wajhnya atau malah sebaliknya…..
Kecantikan akhlak jika ada pada seseorang, lebih kekal. Inilah kecantikan hakiki yang mengikuti penilaian Allah. Hancur badan dikandung tanah, budi baik di kenang juga. Malah akhlak yang baik juga sangat lebih disukai oleh hati manusia. Contohnya, kalaulah ada orang yang wajahnya saja cantik tetapi akhlaknya buruk, pasti dia akan dibenci dan bahkan dimaki.
Tatkala bunga-bunga layu, buah-buahnya pun bermunculan... Ketika kecantikan luar memudar, seketika itu juga tumbuh kecantikan dari dalam dengan sendirinya. Ini yang bisa menjelaskan orang yang mukanya biasa-biasa saja, tetapi hidupnya memancarkan cahaya-cahaya keteladanan semua karna kecantikanbukan hanya dari rupa tapi dri hati nd’ perilaku
Tidak semua orang mudah memahami konsep Kecantikan ini sering mereka merasa bahwa kecantikan adalah suatu cara untuk mendapat pasangan. Terutama mereka yang diperbudak habis-habisan oleh nafsu dan pikiran. Dan sedikit-sedikit meminta data serta fakta empiris. Untaian kalimat indah diatas, hanya akan memperpanjang daftar kebingungan. Namun bagi siapa saja yang terbiasa ber-akhlakul karimah, dan bersahabat akrab dengan Allah, tidak banyak kesulitan yang muncul untuk memahami. Tanpa perlu dipaksa, tanpa perlu mengada-ada, kecantikan muncul dengan sendirinya. Sejalan dengan perilaku dan akhlak bila yang di lakukannya baikk maka kecantikan akan terpancar dari wajhnya atau malah sebaliknya…..
MANBA GELAR TRY OUT
Bangkalan
Jatim (MAN Bangkalan). Sejumlah siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Bangkalan
mulai hari Senin (27/02) sampai dengan Rabu (29/02) mengikuti Try Out I di Aula
MAN Bangkalan. Acara yang bertajuk SUKSES UN 2012 ini diikuti oleh 300 Siswa.
Terdiri dari 38 siswa Program Bahasa, 118 siswa Program IPA, dan 144 siswa
Program IPS.
Drs. Sholih Bahri, M.PdI selaku Ketua Panitia acara ini
ketika dihubungi di sela-sela kesibukannya Selasa (28/02) kemarin mengatakan
bahwa Try Out di MAN Bangkalan akan dilaksanakan dua kali.
Try Out I
dilaksanakan akhir Pebruari sedang Try Out II akan dilaksanakan bulan Maret.
Adapun soal yang digunakan merupakan soal yang dikirim dari Kanwil Kemenag
Propinsi Jawa Timur. Ia juga mengatakan bahwa MAN Bangkalan beserta 40 Madrasah
Aliyah Swasta lain yang tergabung dalam Kelompok Kerja Madrasah (KKM) MA
Bangkalan akan melaksanakan Try Out secara serempak.
Menurut
Sholih Bahri acara ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang dilaksanakan MAN
Bangkalan. “Try Out biasanya dilaksanakan ketika menjelang Ujian Nasional (UN).
Agenda tersebut merupakan kegiatan rutin tahunan.“ Katanya.
“Materi soal yang digunakan mengacu kepada Standart Kompetensi Lulusan secara Nasional per mata pelajaran.” Pungkasnya.
“Materi soal yang digunakan mengacu kepada Standart Kompetensi Lulusan secara Nasional per mata pelajaran.” Pungkasnya.
Sholih
berharap pelaksanaan Try Out ini akan membuat para peserta didik utamanya kelas
XII lebih siap dan sukses dalam menghadapi Ujian Nasional 2012 nanti.
Dalam kesempatan yang lain kepala kantor kementerian Agama
Kabupaten Bangkalan Drs Amin Mahfud juga mengharapkan agar seluruh Madrasah
mulai dari tingkat MI, MTs sampai dengan MA mempersiapkan murid-muridnya dalam
menghadapi UN. “anak-anak harus siap baik secara fisik maupun mental, sehingga
ketika menghadapi UN bisa enjoy tidak tegang dan tidak nerveous” Kata Amin.
Hari
Selasa (28/02) kemarin para siswa nampak serius mengerjakan soal, seolah-olah
sedang melaksanakan Ujian Nasional betulan. Suasana tegang ujian semakin terasa
ketika beberapa guru ikut mengawasi pelaksanaan Try Out . Tiba-tiba ada seorang
siswa yang merusak suasana dengan cara menggoda seorang pengawas.
“Kumisnya diplintir dulu Pak.” katanya.
Spontan suasana menjadi gaduh. Seketika para siswa yang
lain tidak kuat menahan tawa. Tapi suasana tersebut tidak bertahan lama.
Seorang guru segera menegur siswa iseng tersebut dan suasana kembali tenang.
(wak)
2 ANGSA UNDAN DAN SEEKOR KURA-KURA
Dahulu kala, di suatu danau di kota
Magdha, hidup seekor kura-kura. Dua ekor angsa undan juga hidup di dekat sana.
Mereka bertiga adalah teman yang sangat akrab. Pada suatu hari, beberapa
nelayan tiba di sana dan berkata, “Kita akan datang ke sini besok pagi dan
menangkap ikan dan kura-kura. ”Pada waktu kura-kura mendengarnya, dia berkata
kepada angsa-angsa undan, ” Apakah kalian dengar apa yang dikatakan
nelayan-nelayan tadi. Apa yang akan kita lakukan sekarang? “Kami akan melakukan
apa yang terbaik”.
“Saya sudah pernah melewati waktu yang
sangat mengerikan dahulu”, kata kura-kura. “Jadi bisakah engkau membantu saya
pergi hari ini ke danau yang lain?” “Tapi itu tidak aman untuk kamu dengan
merangkak ke danau yang lain”, kata angsa-angsa undan. “Baik, kamu bisa
mengangkat saya ke sana dengan menumpang dua di antara kamu” jawab kura-kura
sambil merasa bahagia sekali dengan dirinya sendiri. “Bagaimana kita bisa
melakukannya?” Tanya angsa-angsa undan.
“Masing-masing bisa memegang ujung
kayu di paruhmu sementara saya memegang kayu tengahnya di mulutku. Kemudian
jika kamu terbang, saya bisa ikut dengan kamu”, kata kura-kura. “Rencana yang
bagus sekali”, kata angsa-angsa undan. “Tapi ini juga sangat berbahaya karena
kalau kamu membuka mulutmu untuk bicara, kamu akan terjatuh.” “Apakah kamu
mengira saya begitu bodoh?” Tanya kura-kura. Kemudian pada waktu angsa-angsa
undan itu terbang sambil mengangkat temannya si kura-kura di kayu.
mereka terlihat oleh beberapa orang
penggembala sapi yang berada di bawah. Karena terkejut, para penggembala itu
berkata, “Sesuatu yang aneh, lihatlah! Angsa-angsa undan sedang membawa
kura-kura ke suatu tempat.” “Wah, kalau kura-kura itu jatuh kita akan
memanggangnya”, kata salah satu gembala sapi. “Saya akan memotong dia menjadi
bagian-bagian kecil dan memakannya” kata yang lain. Mendengar kata-kata yang
begitu kasar dari para gembala sapi.
kura-kura lupa di mana dia sedang
berada kemudian berteriak dengan marah, “Kamu akan makan abu.”Pada saat dia
membuka mulutnya, ia kehilangan genggamannya
dan dia pun jatuh terpelanting ke tanah dan langsung disambar oleh gembala sapi
kemudian dibunuh. Angsa-angsa undan dengan sedih melihat kehancuran teman
mereka (si kura-kura) dan dengan putus asa mengharap bahwa dia seharusnya
mendengar nasihat mereka untuk tidak membuka mulutnya. Oleh karenanya, nasehat
yang baik itu tidaklah ternilai harganya.
Rabu, 12 Desember 2012
MANBA CERIA
MAN MODEL BANGKALAN, membuat penasaran para pendengarnya , karena man
model bangkalan adalah satu-satunya sekolah model dan bertaraf
internasional di madura.dan sekolah ini sangat beda dengan sekolah lain,
karena,sekolah ini berada di bawah naungan DEPAG,bukan pendidikan
nasional.
dan pemandangan di man model bangkalan sangat lah indah , banyak sekali alam yang menghiasi man model bangkalan,sehingga man model bangkalan di datangi beberapa murid dari sekolah lain yaitu MA al-hidayah untuk melihat-lihat pemandangan dan apa saja yang ada di man model bangkalan.
dan sangat terlihat ekspresi yang di keluarkan dari wajah mereka sangatterkesan,dengan semua yang ada di man model bangkalan. hebat bukan..??
Terntunya man model bangkalan harus menjaga nama baiknya, salah satu caranya adalah dengan memberikan fasilitas yang lengkap terhadap para pemakainya dan juga pemandangannya yang sangat indah, hal-hal tersebut membuat banyak khalayak yang tertarik terhadap man model bangkalan, makanya murid-murid di man model bangkalan sangat banyak.dan juga terus terjadinya pengembangan pembangunan dan pengembangan kreatifitas dan fasilitas di man model bangkalan.
Nah, fasilitas yang satu ini sangat istimewa di man model bangkalan dan hanya dimiliki madrasah ini di bangkalan, yaitu aula dan asrama PSBB, fasilitas tersebut mengundang banyak sekali perhatian dari luar keluarga man model bangkalan,
contohnya seperti banyaknya penyewaan tempat tersebut.namun,sekarang asrama d man model bangkalan sudah di jual ke orang lain,..
yah,,, seandainya tidak di jual, mungkin akan banyak pengguna asrama tersebut dari anak-anak man model bangkalan,termasuk saya,..
Penyewaan aula atau asrama psbb di man model bangkalan biasanya digunakan untuk acara pernikahan acara DEPAG dan lain-lain. Ada juga anak-anak muda dari luar keluarga man model bangkalan yang menyewa aula untuk ngeband ngedance dan kegiatan seni lainnya.
hal ini membuat nama man model bangkalan menjadi semakin bagus dan menjulang popularitasnya.
kalau yang biasa di gunakan oleh anak-anak man model bangkalannya sendiri, aula ini biasanya di gunakan untuk acara pensi,maulid nabi,istighosah,dll.
Pemandangan man model bangkalan sangatlah indah membuat banyak perhatian dari masyarakat luar apalagi sekarang diperlengkap dengan pembangunan-pembangunan kelas, lab dan parkiran baru. dan juga ana-anaknya yng ramah.
Man model bangkalan itu wajib didatangi lho karena akan menimbulkan rasa ketagihan.hahaha
dan pemandangan di man model bangkalan sangat lah indah , banyak sekali alam yang menghiasi man model bangkalan,sehingga man model bangkalan di datangi beberapa murid dari sekolah lain yaitu MA al-hidayah untuk melihat-lihat pemandangan dan apa saja yang ada di man model bangkalan.
dan sangat terlihat ekspresi yang di keluarkan dari wajah mereka sangatterkesan,dengan semua yang ada di man model bangkalan. hebat bukan..??
Terntunya man model bangkalan harus menjaga nama baiknya, salah satu caranya adalah dengan memberikan fasilitas yang lengkap terhadap para pemakainya dan juga pemandangannya yang sangat indah, hal-hal tersebut membuat banyak khalayak yang tertarik terhadap man model bangkalan, makanya murid-murid di man model bangkalan sangat banyak.dan juga terus terjadinya pengembangan pembangunan dan pengembangan kreatifitas dan fasilitas di man model bangkalan.
Nah, fasilitas yang satu ini sangat istimewa di man model bangkalan dan hanya dimiliki madrasah ini di bangkalan, yaitu aula dan asrama PSBB, fasilitas tersebut mengundang banyak sekali perhatian dari luar keluarga man model bangkalan,
contohnya seperti banyaknya penyewaan tempat tersebut.namun,sekarang asrama d man model bangkalan sudah di jual ke orang lain,..
yah,,, seandainya tidak di jual, mungkin akan banyak pengguna asrama tersebut dari anak-anak man model bangkalan,termasuk saya,..
Penyewaan aula atau asrama psbb di man model bangkalan biasanya digunakan untuk acara pernikahan acara DEPAG dan lain-lain. Ada juga anak-anak muda dari luar keluarga man model bangkalan yang menyewa aula untuk ngeband ngedance dan kegiatan seni lainnya.
hal ini membuat nama man model bangkalan menjadi semakin bagus dan menjulang popularitasnya.
kalau yang biasa di gunakan oleh anak-anak man model bangkalannya sendiri, aula ini biasanya di gunakan untuk acara pensi,maulid nabi,istighosah,dll.
Pemandangan man model bangkalan sangatlah indah membuat banyak perhatian dari masyarakat luar apalagi sekarang diperlengkap dengan pembangunan-pembangunan kelas, lab dan parkiran baru. dan juga ana-anaknya yng ramah.
Man model bangkalan itu wajib didatangi lho karena akan menimbulkan rasa ketagihan.hahaha
Langganan:
Postingan (Atom)
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar